Cari Blog Ini

Senin, 02 Maret 2015

Tugas Minggu II Analisis Landskap

Pengaruh Gaya Tektonik Gempa di Jogja
            Gempabumi yang banyak terjadi dan mempunyai efek sangat serius sebenarnya berasal dari kegiatan tektonik, yaitu mencakup 90% dari seluruh kejadian gempabumi. Gempabumi ini berhubungan dengan kegiatan gaya-gaya tektonik yang tengah terus berlangsung dalam proses pembentukan gunung-gunung, terjadinya patahan-patahan batuan (fault) dan tarikan atau tekanan dari pergerakan lempeng-lempeng lautan penyusun kerak bumi.
            Gempabumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik. Teori dari plat tektonik menjelaskan bahwa kulit bumi atau litosfer yang menutupi permukaan bumi keadaannya tidak utuh, melainkan terpecah-pecah berbentuk lempeng, yang satu sama yang lain bergerak saling menjauh, bertumbukan dan ada juga yang saling berpapasan. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Gerakan litosfer tersebut diakibatkan oleh adanya gerakan astenofer yang sifatnya cair kental. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Gempa bumi tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuto pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lepmeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian , kerangka teoritis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik.
            Begitu juga gempa yang terjadi di Jogja. Menurut BMG di dalam Hamid (2007), penyebab gempabumi tanggal 27 Mei 2006 diramalkan karena adanya gerakan pada pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng tektonik di samudra Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman 33 km. Kekuatan gempa adalah 5,9 Skala Richter (SR). Gelombang gempa akibat patahan lempeng tektonik merambat ke segala arah. Ketika gelombang tersebut mengenai sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali Progo, dan sesar Jiwo menyebabkan empat sesar ini patah lagi, karena batuan di empat sesar ini masih labil. Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar ini diperkirakan ada pada kedalaman kurang dari 30 km.



2. Penyebab Kedua
a. Sesar Kali Opak
            Sesar Kali Opak memanjang di kecamatan Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Pleret, Piyungan, Berbah, Kalasan, dan Prambanan yang kemudian merambat ke sesar Jiwo. Kerusakan akibat gempa memang berada di 9 (sembilan) kecamatan ini. Di Kali Opak, minimal, ada empat tempuran (bertemunya dua buah sungai atau lebih), yaitu tempuran Kali Winongo dan Opak di Kec. Kretek, Kali Code dan Opak di Kec Jetis, Kali Gajah Uwong dan Opak di Kec. Pleret, serta tempuran Kali Gawe dan Opak di Kec. Piyungan. Oleh karena itu, wilayah aliran Kali Winongo, Code, Gajah Uwong, dan Kali Gawe terdapat kerusakan yang signifikan (berati), misalnya di Kec. Sewon, Bantul, Kretek, dan Kec. Jetis Kab. Bantul.
b. Sesar Jiwo
            Sesar Jiwo ada di daerah Klaten. Sesar Jiwo berada di kecamatan Wedi, Gantiwarno, Bayat, dan Cawas. Kerusakan yang berarti akibat gempa memang berada di 4 (empat) kecamatan ini.
c. Sesar Kali Oya
            Sesar Kali Oya dimulai dari tempuran Kali Opak dan Kali Oya (di wilayah Desa Seloharjo, Kec Pundong, desa Kiringan, Kec Kretek, serta Selopamioro dan Sriharjo, Kec Imogiri), terus ke arah tempuran Kali Celeng dan Kali Oya, Kedung Miri, Kedung Jati, Kedung Wanglu, dan Kedung Slempret yang ada air terjunnya setinggi kurang lebih 70 meter. Tempuran Kali Opak dan Kali Oya ada di perbatasan kecamatan Imogiri, Pundong, dan Kretek. Tempuran Kali Celeng dan Kali Oya, serta Kedung Miri ada di wilayah Kec. Imogiri. Kedung Wanglu, Kedung Jati, dan Kedung Slempret ada di wilayah Kec. Dlingo Kab Bantul, serta wilayah Kec Saptosari, Kec Panggang, Kec Playen, dan Kec Paliyan Kab Gunungkidul. Ada kemungkinan besar patahan di daerah ini diteruskan ke danau bawah tanah di wilayah Gunungkidul, misalnya: danau Bribin dan Bukit Baya Kec Gedangsari, serta danau bawah tanah di wilayah Seloharjo Kec. Pundong Kab. Bantul. Oleh karena adanya sesar Kali Oya kerusakan terjadi di wilayah Kec. Kretek, Imogiri, Pundong, dan Dlingo Kab. Bantul; serta wilayah Kec. Saptosari, Panggang, Playen, Paliyan, dan Gedangsari Kab. Gungkidul.
d. Sesar Kali Progo
            Sesar Kali Progo melalui dataran rendah yang agak luas, sehingga sesar progo tidak memicu gerakan gelombang gempa tanggal 27 Mei 2006. Kerusakan yang parah terjadi di wilayah perbukitan Kec. Sentolo dan perbukitan Kec Pajangan. Sesar progo melalui perbukitan kapur yang diduga masih labil batuannya di dua wilayah ini. Oleh sebab itu, kerusakan berat terjadi di wilayah Kec. Sentolo Kab. Kulonprogo serta Kec. Pandak dan Kec Pajangan Kab. Bantul. Perlu diketahui, bahwa pada arah ini ada tempuran Kali Bedog dan Kali Progo di dusun Mangir Desa Wijirejo Kec. Pandak, sehingga di wilayah ini juga terjadi kerusakan yang berarti.

Daftar Pustaka

Hamid, Ahmad Abu. 2007.   Makalah Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Disampaikan Pada Pelatihan  Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya Di  PSBB MAN III Yogyakarta  Pada Tanggal 26 Februari 2007  tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya  Serta Bencana         Alam Lainnya. Yogyakarta : UNY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar