Pengaruh Gaya Tektonik Gempa di
Jogja
Gempabumi yang banyak terjadi dan
mempunyai efek sangat serius sebenarnya berasal dari kegiatan tektonik, yaitu
mencakup 90% dari seluruh kejadian gempabumi. Gempabumi ini berhubungan dengan
kegiatan gaya-gaya tektonik yang tengah terus berlangsung dalam proses
pembentukan gunung-gunung, terjadinya patahan-patahan batuan (fault) dan tarikan atau tekanan dari
pergerakan lempeng-lempeng lautan penyusun kerak bumi.
Gempabumi tektonik disebabkan oleh
perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik. Teori
dari plat tektonik menjelaskan bahwa kulit bumi atau litosfer yang menutupi
permukaan bumi keadaannya tidak utuh, melainkan terpecah-pecah berbentuk
lempeng, yang satu sama yang lain bergerak saling menjauh, bertumbukan dan ada
juga yang saling berpapasan. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga
berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Gerakan litosfer tersebut
diakibatkan oleh adanya gerakan astenofer yang sifatnya cair kental. Hal inilah
yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Gempa bumi tektonik memang unik.
Peta penyebarannya mengikuto pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni
mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lepmeng tektonik yang menyusun kerak
bumi. Dalam ilmu kebumian , kerangka teoritis tektonik lempeng merupakan
postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir
seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik.
Begitu juga gempa yang terjadi di
Jogja. Menurut BMG di dalam Hamid (2007), penyebab gempabumi tanggal 27 Mei
2006 diramalkan karena adanya gerakan pada pertemuan lempeng tektonik
Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng tektonik di samudra
Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman 33 km.
Kekuatan gempa adalah 5,9 Skala Richter (SR). Gelombang gempa akibat patahan
lempeng tektonik merambat ke segala arah. Ketika gelombang tersebut mengenai
sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali Progo, dan sesar Jiwo menyebabkan
empat sesar ini patah lagi, karena batuan di empat sesar ini masih labil.
Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar ini diperkirakan ada pada
kedalaman kurang dari 30 km.
2. Penyebab
Kedua
a. Sesar Kali
Opak
Sesar Kali Opak memanjang di kecamatan
Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Pleret, Piyungan, Berbah, Kalasan, dan
Prambanan yang kemudian merambat ke sesar Jiwo. Kerusakan akibat gempa memang
berada di 9 (sembilan) kecamatan ini. Di Kali Opak, minimal, ada empat tempuran
(bertemunya dua buah sungai atau lebih), yaitu tempuran Kali Winongo dan Opak
di Kec. Kretek, Kali Code dan Opak di Kec Jetis, Kali Gajah Uwong dan Opak di
Kec. Pleret, serta tempuran Kali Gawe dan Opak di Kec. Piyungan. Oleh karena
itu, wilayah aliran Kali Winongo, Code, Gajah Uwong, dan Kali Gawe terdapat
kerusakan yang signifikan (berati), misalnya di Kec. Sewon, Bantul, Kretek, dan
Kec. Jetis Kab. Bantul.
b. Sesar Jiwo
Sesar Jiwo ada di daerah Klaten.
Sesar Jiwo berada di kecamatan Wedi, Gantiwarno, Bayat, dan Cawas. Kerusakan
yang berarti akibat gempa memang berada di 4 (empat) kecamatan ini.
c. Sesar Kali
Oya
Sesar Kali Oya dimulai dari tempuran
Kali Opak dan Kali Oya (di wilayah Desa Seloharjo, Kec Pundong, desa Kiringan,
Kec Kretek, serta Selopamioro dan Sriharjo, Kec Imogiri), terus ke arah
tempuran Kali Celeng dan Kali Oya, Kedung Miri, Kedung Jati, Kedung Wanglu, dan
Kedung Slempret yang ada air terjunnya setinggi kurang lebih 70 meter. Tempuran
Kali Opak dan Kali Oya ada di perbatasan kecamatan Imogiri, Pundong, dan
Kretek. Tempuran Kali Celeng dan Kali Oya, serta Kedung Miri ada di wilayah
Kec. Imogiri. Kedung Wanglu, Kedung Jati, dan Kedung Slempret ada di wilayah
Kec. Dlingo Kab Bantul, serta wilayah Kec Saptosari, Kec Panggang, Kec Playen,
dan Kec Paliyan Kab Gunungkidul. Ada kemungkinan besar patahan di daerah ini
diteruskan ke danau bawah tanah di wilayah Gunungkidul, misalnya: danau Bribin
dan Bukit Baya Kec Gedangsari, serta danau bawah tanah di wilayah Seloharjo
Kec. Pundong Kab. Bantul. Oleh karena adanya sesar Kali Oya kerusakan terjadi
di wilayah Kec. Kretek, Imogiri, Pundong, dan Dlingo Kab. Bantul; serta wilayah
Kec. Saptosari, Panggang, Playen, Paliyan, dan Gedangsari Kab. Gungkidul.
d. Sesar Kali
Progo
Sesar Kali Progo melalui dataran rendah
yang agak luas, sehingga sesar progo tidak memicu gerakan gelombang gempa
tanggal 27 Mei 2006. Kerusakan yang parah terjadi di wilayah perbukitan Kec.
Sentolo dan perbukitan Kec Pajangan. Sesar progo melalui perbukitan kapur yang
diduga masih labil batuannya di dua wilayah ini. Oleh sebab itu, kerusakan
berat terjadi di wilayah Kec. Sentolo Kab. Kulonprogo serta Kec. Pandak dan Kec
Pajangan Kab. Bantul. Perlu diketahui, bahwa pada arah ini ada tempuran Kali
Bedog dan Kali Progo di dusun Mangir Desa Wijirejo Kec. Pandak, sehingga di
wilayah ini juga terjadi kerusakan yang berarti.
Daftar Pustaka
Hamid, Ahmad Abu.
2007. Makalah Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Disampaikan
Pada Pelatihan Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya Di PSBB MAN III Yogyakarta Pada Tanggal 26 Februari 2007 tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya Serta Bencana Alam
Lainnya. Yogyakarta : UNY
Tidak ada komentar:
Posting Komentar