PENGARUH GEMPA TEKTONIK TERHADAP
AKTIVITAS GUNUNG BERAPI
Vulkanisme adalah semua
peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar mencapai permukaan bumi
melalui retakan dalam kerak bumi atau melalui sebuah pita sentral yang disebut
terusan kepundan atau diatrema.Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi disebut lava. Magma
sebagai masa silikat cair pijar sangat giat melakukan gerakan ke segala arah
baik secara vertical, miring, menyusup atau mendatar, yang bergerak dipermukaan
bumi ataupun hanya di dalam bumi. Magma dapat bergerak naik karena memiliki suhu
yang tinggi dan mengandung gas-gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong
batuan di atasnya.
Di dalam litosfer magma menempati
suatu kantong yang disebut dapur magma. Kedalaman dapur magma merupakan
penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang terjadi. Pada umumnya,
semakin dalam dapur magma dari permukaan bumi, maka semakin kuat letusan yang
ditimbulkannya. Lamanya aktivitas gunung api yang bersumber dari magma
ditentukan oleh besar atau kecilnya volume dapur magma. Dapur magma inilah yang
merupakan sumber utama aktivitas vulkanik.
Pergerakan dari aktivitas vulkanik
dapat berakibat terjadinya sustu gempa, yang dinamakan gempa vulkanik. Gempa
vulkanik itu sendiri adalah getaran di permukaan bumi yang disebabkan oleh
peristiwa keluarnya magma dari dapur magma. Peristiwa magma keluar dari dapur
magma, baik hanya di lapisan kulit bumi maupun sampai permukaan bumi
menyebabkan getaran disebut magma vulkanik. Getaran gempa vulkanik terbatas di
tubuh gunung api dan di daerah sekitarnya. Bahaya dari gempa vulkanik adalah
bahan-bahan yang dikeluarkan oleh letusan gunung vulkanik, seperti batu-batuan,
debu, lahar, dan gas beracun. Akibat gempa vulkanik dapat membahayakan makhluk
hidup dan lingkungan yang disebabkan oleh bahan letusan. Bila vulkanik berada
di laut maka dapat menimbulkan gelombang pasang seperti Gunung Merapi. Pada
umumnya, wilayah korban letusan vulkanik meliputi wilayah sempit (sekitar
gunung api) dibandingkan dengan gempa tektonik. Lokasi atau daerah gempa
vulkanik terdapat di seluruh gunung api di Indonesia.
Gejala atau tanda gunung api meletus
adalah terjadi gempa, terdengar suara gemuruh dalam tanah, suhu di sekitar kawah
naik, sumber mata air kering, binatang berpindah, tumbuhan sekitar kawah
hangus, dan ekshalasi semakin hebat. Manfaat gunung api adalah abu vulkanik dapat
meremajakan dan menyuburkan tanah di sekitar letusan, bahan galian/tambang
terdapat di daerah bekas letusan, dan hasil letusan digunakan sebagai bahan
bangunan serta objek rekreasi.
Dari
kejadian gempa yang terjadi di Jogja. Menurut BMG di dalam Hamid (2007),
penyebab gempabumi tanggal 27 Mei 2006 diramalkan karena adanya gerakan pada
pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng
tektonik di samudra Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta
pada kedalaman 33 km. Kekuatan gempa adalah 5,9 Skala Richter (SR). Gelombang
gempa akibat patahan lempeng tektonik merambat ke segala arah. Ketika gelombang
tersebut mengenai sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali Progo, dan sesar
Jiwo menyebabkan empat sesar ini patah lagi, karena batuan di empat sesar ini
masih labil. Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar ini
diperkirakan ada pada kedalaman kurang dari 30 km.
Aktivitas
Kegunungapian,Gunung Aktif karena Gerak Lempeng Indoaustralia,Kebumen, Kompas –
Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Meningkatnya aktivitas gunung api di Pulau Jawa,
terutama Gunung Merapi, Dieng, dan Semeru berkorelasi dengan penajaman atau
pergerakan lempeng Indoaustralia yang berada di bawah Pulau Jawa. Setiap tahun
lempeng bagian dari lempeng Asia Tenggara itu bergerak sepanjang 10 sentimeter.
Pada bagian lempeng yang menajam dengan dasar Pulau Jawa terjadi peleburan. Air
yang dibawa partikel lempeng akan terpanaskan hingga menimbulkan uap yang
membawa material magma ke atas permukaan bumi.
Kepala
Seksi Gunung Merapi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian
(BPPTK) Yogyakarta, Subadriyo, membenarkan gempa yang terasa di kota Yogyakarta
gempa tektonik. Menurut Subandriyo, gempa yang terjadi Selasa (19/7) malam
itutidak ada kaitannya dengan aktivitas gunung Merapi.Menurut Subadriyo, gempa
tektonik yang bersumber di Samudera Indonesia itu bisa saja mempengaruhi aktivitas Merapi. “Dalam
kondisi Merapi yang aktif saat ini, gempa tektonik bisa saja memicu peningkatan
aktivitas, namun bisa juga tidak. Makanya, kami akan cermati efek gempa itu
terhadap aktivitas Merapi,”katanya.Gempa
tektonik seperti itu, bisa berpengaruh terhadap gerakan magma gunung Merapi
Jadi,
aktivitas dari pergerakan yang ditimbulkan oleh pergerakan lempeng bumi atau
biasa disebut dengan gempa tektonik
dapat mempenggaruhi dari aktivitas gunung berapi. Akan tetapi pengaruhnya
tergantung dari tingkat aktivitas gunung berapi. Jika keadaan gunung telah
berada pada tingkat siaga, atau gunung pada kondisi akan meletus, maka pengaruh
dari gempa tektonik dapat mempercepat terjadinya letusan gunung berapi.
Hamid,
Ahmad Abu. 2007. Makalah Pengabdian Pada Masyarakat (PPM)
Disampaikan Pada Pelatihan Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya
Di PSBB MAN III Yogyakarta Pada Tanggal 26 Februari 2007
tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar