Gempa Bumi di Jogja
Tanggal 27 Mei 2006, pukul 06.50 WIB
Kota Yogyakarta diguncang gempa dengan kekuatan 5,8 – 6,2 pada SR (BMG dan
Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pusat Gempa diperkirakan di
pinggir pantai selatan Yogyakarta atau bagian selatan Kabupaten Bantul dengan
kedalaman 17 km – 33 km di bawah permukaan tanah. Gempa tersebut dirasakan
tidak hanya di wilayah Propinsi DIY tetapi juga beberapa wilayah di Provinsi
Jawa Tengah Bagian Selatan. Akibat gempa beberapa wilayah, khususnya bagian
Selatan Kota Yogyakarta yaitu di Kecamatan Kotagede, Umbulharjo, Mergangsan,
Mantrijeron dan Gondokusuman, mengalami kerusakan yang cukup parah baik
kerusakan bangunan maupun infrastruktur lainnya. Setelah dilakukan kajian
lapangan, ternyata gempa bumi disebabkan adanya gerakan sesar aktif di Propinsi
DIY yang kemudian disebut dengan Sesar Kali Opak (Walikota Yogyakarta, 2007).
Menurut BMG, penyebab gempabumi
tanggal 27 Mei 2006 diramalkan karena adanya gerakan pada pertemuan lempeng
tektonik Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng tektonik di
samudra Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman
33 km. Gelombang gempa akibat patahan lempeng tektonik merambat ke segala arah.
Ketika gelombang tersebut mengenai sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali
Progo, dan sesar Jiwo menyebabkan empat sesar ini patah lagi, karena batuan di
empat sesar ini masih labil. Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar
ini diperkirakan ada pada kedalaman kurang dari 30 km. Menurut Hamid (2007) Periode
gempa khusus di wilayah DIY, periode gempa dapat diperkirakan sebagai berikut.
- Tahun 1867 terjadi gempa besar di DIY. Ada sekitar 372 rumah hancur dan 5 orang meninggal (ingat baik-baik, bahwa rumah dan penduduk DIY pada saat itu belum padat seperti saat ini). Konon kabarnya, tugu lincip dan bangunan tamansari ambrol, serta cerobong pabrik gula Gesikan Kelurahan Kauman Kawedanan Pandak pothol.
- Tahun 1943 terjadi gempa besar di DIY. Ada sekitar 2 800 rumah hancur, 213 orang meninggal, dan 2 096 orang luka. Pada tahun 1943 rumah dan penduduk di wilayah DIY sudah agak rapat dan agak padat. Namun Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman belum sambung dengan kota Yogyakarta
- Tahun 2006 ada gempa besar di DIY. Lebih dari 100 000 rumah hancur, lebih dari 7 800 orang meninggal, dan lebih dari 20 000 orang luka-luka. Pada tahun 2006 pemukiman penduduk di DIY sudah melampui batas, karena banyak sawah dan perbukitan yang ditanami genteng, sehingga penduduk DIY akan diberi makan genteng; serta Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Sleman sudah sambung dengan kota Yogyakarta.
Periode
gempa dapat dihitung dari tiga fakta ini, yaitu: 1943 – 1867 = 76 tahun, atau
2006 – 1943 = 63 tahun, atau 2006 – 1867 = 139 tahun. Kemungkinan besar periode
gempa di DIY adalah 63 tahun dan 76 tahun. Untuk baiknya angka, diprediksikan
periode gempa di DIY adalah 50 tahun dan 75 tahun.
Daftar Pustaka
Hamid, Ahmad Abu. 2007. Makalah
Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Disampaikan Pada Pelatihan Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya Di
PSBB MAN III Yogyakarta Pada Tanggal 26 Februari 2007 tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya Serta
Bencana Alam Lainnya. Yogyakarta : UNY
Walikota Yogyakarta. 2007.
Keputusan Walikota Yogyakarta No : 669 Tahun 2007 tentang Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana Kota Yogyakarta Tahun 2007-2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar