Cari Blog Ini

Senin, 02 Maret 2015

Tugas Minggu I Analisis Landskap



Gempa Bumi di Jogja

            Tanggal 27 Mei 2006, pukul 06.50 WIB Kota Yogyakarta diguncang gempa dengan kekuatan 5,8 – 6,2 pada SR (BMG dan Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pusat Gempa diperkirakan di pinggir pantai selatan Yogyakarta atau bagian selatan Kabupaten Bantul dengan kedalaman 17 km – 33 km di bawah permukaan tanah. Gempa tersebut dirasakan tidak hanya di wilayah Propinsi DIY tetapi juga beberapa wilayah di Provinsi Jawa Tengah Bagian Selatan. Akibat gempa beberapa wilayah, khususnya bagian Selatan Kota Yogyakarta yaitu di Kecamatan Kotagede, Umbulharjo, Mergangsan, Mantrijeron dan Gondokusuman, mengalami kerusakan yang cukup parah baik kerusakan bangunan maupun infrastruktur lainnya. Setelah dilakukan kajian lapangan, ternyata gempa bumi disebabkan adanya gerakan sesar aktif di Propinsi DIY yang kemudian disebut dengan Sesar Kali Opak (Walikota Yogyakarta, 2007).
            Menurut BMG, penyebab gempabumi tanggal 27 Mei 2006 diramalkan karena adanya gerakan pada pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng tektonik di samudra Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman 33 km. Gelombang gempa akibat patahan lempeng tektonik merambat ke segala arah. Ketika gelombang tersebut mengenai sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali Progo, dan sesar Jiwo menyebabkan empat sesar ini patah lagi, karena batuan di empat sesar ini masih labil. Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar ini diperkirakan ada pada kedalaman kurang dari 30 km. Menurut Hamid (2007) Periode gempa khusus di wilayah DIY, periode gempa dapat diperkirakan sebagai berikut.

  1. Tahun 1867 terjadi gempa besar di DIY. Ada sekitar 372 rumah hancur dan 5 orang meninggal (ingat baik-baik, bahwa rumah dan penduduk DIY pada saat itu belum padat seperti saat ini). Konon kabarnya, tugu lincip dan bangunan tamansari ambrol, serta cerobong pabrik gula Gesikan Kelurahan Kauman Kawedanan Pandak pothol.
  2. Tahun 1943 terjadi gempa besar di DIY. Ada sekitar 2 800 rumah hancur, 213 orang meninggal, dan 2 096 orang luka. Pada tahun 1943 rumah dan penduduk di wilayah DIY sudah agak rapat dan agak padat. Namun Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Sleman belum sambung dengan kota Yogyakarta
  3. Tahun 2006 ada gempa besar di DIY. Lebih dari 100 000 rumah hancur, lebih dari 7 800 orang meninggal, dan lebih dari 20 000 orang luka-luka. Pada tahun 2006 pemukiman penduduk di DIY sudah melampui batas, karena banyak sawah dan perbukitan yang ditanami genteng, sehingga penduduk DIY akan diberi makan genteng; serta Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, dan Sleman sudah sambung dengan kota Yogyakarta.
            Periode gempa dapat dihitung dari tiga fakta ini, yaitu: 1943 – 1867 = 76 tahun, atau 2006 – 1943 = 63 tahun, atau 2006 – 1867 = 139 tahun. Kemungkinan besar periode gempa di DIY adalah 63 tahun dan 76 tahun. Untuk baiknya angka, diprediksikan periode gempa di DIY adalah 50 tahun dan 75 tahun.

Daftar Pustaka
Hamid, Ahmad Abu. 2007.   Makalah Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Disampaikan Pada Pelatihan  Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya Di PSBB MAN III Yogyakarta  Pada Tanggal 26 Februari 2007  tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya  Serta Bencana  Alam Lainnya. Yogyakarta : UNY

Walikota Yogyakarta. 2007. Keputusan Walikota Yogyakarta No : 669 Tahun 2007 tentang Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana Kota Yogyakarta Tahun 2007-2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar