Cari Blog Ini

Senin, 23 Maret 2015

Tugas Minggu V Analisis Landskap

Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Istimewa Jogjakarta

Karakteristik Lokasi dan Wilayah

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada di pulau Jawa bagian tengah, tepatnya sisi selatan Pulau Jawa, dengan bagian selatan dibatasi Lautan Indonesia, sedangkan di bagian timur laut, tenggara, barat, dan barat laut dibatasi oleh wilayah Provinsi Jawa Tengah yang meliputi:
  •  Kabupaten Klaten di sebelah Timur Laut
  • Kabupaten Wonogiri di sebelah Tenggara
  • Kabupaten Purworejo di sebelah Barat
  • Kabupaten Magelang di sebelah Barat Laut

 

Provinsi DIY terletak pada posisi astronomi antara 7º.33’- 8º.12’ Lintang Selatan dan 110º.00’ - 110º.50’ Bujur Timur. DIY adalah salah satu provinsi dari 33 provinsi di wilayah Indonesia dan merupakan provinsi terkecil setelah DKI Jakarta, dengan luas 3.185,80 km² atau 0,17% dari luas Indonesia (1.860.359,67 km²). Secara administratif, Provinsi DIY terdiri dari empat kabupaten dan satu kota, yaitu:
  • Kabupaten Kulon Progo 586,27 km² (18,40%)
  • Kabupaten Bantul 506,85 km² (15,91%)
  • Kabupaten Gunungkidul 1.485,36 km² (46,62%)
  • Kabupaten Sleman 574,82 km² (18,04%)
  • Kota Yogyakarta 32,50 km² (1,02%)

Wilayah terluas Provinsi DIY adalah Kabupaten Gunungkidul, sedangkan wilayah terkecil adalah Kota Yogyakarta

Berbeda dengan provinsi lain yang banyak mengalami pemekaran sejak otonomi daerah diberlakukan pada tahun 2001, jumlah kabupaten/kota, kecamatan, dan kelurahan/desa di Provinsi DIY tidak mengalami perubahan. Wilayah Provinsi DIY terbagi menjadi 78 kecamatan dan 438 kelurahan yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota, dengan rincian:
  • Kabupaten Kulon Progo terdiri dari 12 kecamatan dan 88 kelurahan/desa
  • Kabupaten Bantul terdiri dari 17 kecamatan dan 75 kelurahan/desa
  • Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 18 kecamatan dan 144 kelurahan/desa
  • Kabupaten Sleman terdiri dari 17 kecamatan dan 86 kelurahan/desa
  • Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan/desa

Provinsi DIY tidak memiliki kawasan pedalaman dan kawasan yang terpencil, juga ditengarai tidak ada desa yang berada di wilayah lembah atau daerah aliran sungai. Pada wilayah pesisir terdapat 33 desa yang berada di sepanjang wilayah selatan Kabupaten Kulon Progo, Bantul sampai dengan Gunungkidul. Pada wilayah daratan yang datar terdapat 305 desa atau sebanyak 69,63% dari seluruh desa di Provinsi DIY. Sementara, pada wilayah lereng/punggung bukit terdapat 100 desa yang tersebar sebanyak 22 desa di Kabupaten Kulon Progo, 11 desa di Kabupaten Bantul, 56 desa di Kabupaten Gunungkidul, dan 11 desa di Kabupaten Sleman.



Fisiografi, Batuan dan Iklim

Wilayah DIY yang terletak pada ketinggian antara 100–499 m dari permukaan laut tercatat sebanyak 65,65%, pada ketinggian kurang dari 100 m sebanyak 28,84%, pada ketinggian antara 500–999 m sebanyak 5,04%, dan pada ketinggian di atas 1000 m sebanyak 0,47%. Berdasarkan satuan fisiografis, DIY terdiri dari :
  1.  Satuan Pegunungan Selatan, seluas ± 1.656,25 km², ketinggian 150–700 m, terletak di Kabupaten Gunungkidul (Pegunungan Seribu), yang merupakan wilayah perbukitan batu gamping (limestone) yang kritis, tandus, dan selalu kekurangan air. Pada bagian tengah berupa dataran Wonosari basin. Wilayah ini merupaka bentang alam solusional dengan bahan batuan induk batu gamping, yang mempunyai karakteristik lapisan tanah dangkal dan vegetasi penutup yang relatif jarang;
  2. Satuan Gunung Berapi Merapi, seluas ± 582,81 km², ketinggian 80–2.911 m, terbentang mulai dari kerucut gunung api hingga dataran fluvial Gunung Merapi, meliputi daerah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan sebagian Kabupaten Bantul, serta termasuk bentang alam vulkanik. Daerah kerucut dan lereng Gunung Merapi merupakan hutan lindung dan sebagai kawasan resapan air;
  3. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo seluas ± 215,62 km², ketinggian 0–80 m, merupakan bentang alam fluvial yang didominasi oleh dataran Alluvial. Membentang di bagian selatan DIY mulai Kabupaten Kulon Progo sampai Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Seribu. Daerah ini merupakan wilayah yang subur.
  4. Bentang alam lain yang belum digunakan adalah bentang alam marine dan aeolin yang merupakan satuan wilayah pantai yang terbentang dari Kabupaten Kulon Progo sampai Bantul. Khusus Pantai Parangtritis, terkenal dengan laboratorium alamnya berupa gumuk pasir. Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan seluas ± 706,25 km², ketinggian 0–572 m, terletak di Kabupaten Kulon Progo. Bagian utara merupakan lahan struktural denudasional dengan topografi berbukit yang mempunyai kendala lereng yang curam dan potensi air tanah yang kecil.

DIY beriklim tropis yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. Suhu udara rata-rata di Yogyakarta tahun 2011 berkisar antara 17,5oC – 39,8oC. Kelembaban udara tercatat minimum 31% dan maksimum 97%, tekanan udara antara 986,4 – 1001,6 mb dengan arah angin antara 1 - 360 derajat dan kecepatan angin antara 0,0 - 18 knot. Curah hujan per hari tahun 2011 mencapai maksimum 1 mm dengan hari hujan per bulan sebanyak 29 kali.

Tanah

Berdasarkan informasi dari Badan Pertanahan Nasional, dari 3.185,80 km² luas DIY, 33,05% merupakan jenis tanah Lithosol, 27,09% Regosol, 12,38% Lathosol, 10,97% Grumusol, 10,84% Mediteran, 3,19% Alluvial, dan 2,48% adalah tanah jenis Rensina.

Penggunaan Lahan dan Vegetasi
Penggunaan lahan di Provinsi DIY terbagi menjadi lahan pertanian dan lahan bukan pertanian. Pada tahun 2010, lahan yang digunakan untuk pertanian tercatat seluas 226.140 ha yang terdiri dari lahan sawah seluas 56.538 ha dan lahan bukan sawah seluas 169.602 ha. Sementara itu, lahan bukan pertanian seluas 92.440 ha yang terbagi menjadi lahan untuk pekarangan/Lahan untuk bangunan dan halaman sekitarnya, rawarawa, hutan negara, dan lainnya masing-masing seluas 50.446 ha, 8 ha, 16.908 ha, dan 25.078 ha. Pada tahun 2010 terlihat bahwa penggunaan lahan terluas adalah untuk penggunaan lahan pertanian bukan sawah.

Luas lahan pertanian untuk sawah terluas berada di Kabupaten Sleman yaitu 22.819 ha, diikuti Kabupaten Bantul 15.465 ha, Kabupaten Kulon Progo 10.304 ha, Kabupaten Gunungkidul 7.865 ha, dan terkecil di Kota Yogyakarta 85 ha, sedangkan lahan pertanian bukan sawah terluas berada di Kabupaten Gunungkidul seluas 104.117 ha, diikuti Kabupaten Kulon Progo 35.027 ha, Kabupaten Sleman 16.643 ha, Kabupaten Bantul 13.628 ha, dan Kota Yogyakarta 187 ha. Sementara itu, luas lahan bukan pertanian di Kabupaten Gunungkidul seluas 36.554 ha, Kabupaten Bantul 21.592 ha, Kabupaten Sleman 18.020 ha, Kabupaten Kulon Progo 13.296 ha, dan Kota Yogyakarta 2.978 ha. Kabupaten Kulon Progo dan Gunungkidul penggunaan lahan terbesar untuk lahan pertanian bukan sawah dan terkecil untuk pertanian sawah. Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta penggunaan lahan terbesar sebagai lahan bukan pertanian, sedangkan penggunaan terkecil di Kabupaten Bantul sebagai lahan pertanian bukan sawah dan di Kota Yogyakarta sebagi lahan pertanian sawah. Sementara itu, Kabupaten Sleman

Wilayah Rawan Bencana

Berdasarkan kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis, wilayah DIY memiliki kondisi yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 2 tahun 2010 tentang RTRW Provinsi DIY, penetapan kawasan rawan bencana alam di Provinsi DIY adalah sebagai berikut:

a.       Kawasan rawan letusan gunung berapi di lereng Gunung Merapi Kabupaten Sleman. 

Bencana alam Gunung Merapi mengancam wilayah Kabupaten Sleman bagian utara dan wilayah-wilayah sekitar sungai yang berhulu di puncak Merapi.

b.   Kawasan rawan bencana tanah longsor di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul.

Gerakan tanah/batuan dan erosi, berpotensi terjadi pada lereng Pegunungan Kulon Progo yang mengancam di wilayah Kulon Progo bagian utara dan barat, serta pada lereng Pengunungan Selatan (Baturagung) yang mengancam wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian utara dan bagian timur wilayah Kabupaten Bantul.

c.       Kawasan rawan bencana banjir di Kabupaten Bantul, dan Kulon Progo.

Banjir terutama berpotensi mengancam daerah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Bantul.

d.      Kawasan rawan kekeringan di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Sleman dan Kulon Progo.

Bahaya kekeringan berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian selatan, khususnya pada kawasan bentang alam karst.

e.       Kawasan rawan angin topan di Kabupaten/Kota.

Bencana alam akibat angin berpotensi terjadi di wilayah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul, dan daerah-daerah Kabupaten Sleman bagian utara, serta wilayah perkotaan Yogyakarta.

f.       Kawasan rawan gempa bumi di Kabupten/Kota. 

Gempa bumi tektonik berpotensi terjadi karena wilayah DIY berdekatan dengan kawasan tumbukan lempeng (subduction zone) di dasar Samudra Indonesia yang berada di sebelah selatan DIY. Disamping itu, secara geologi di wilayah DIY terdapat beberapa patahan yang diduga aktif. Wilayah dataran rendah yang tersusun oleh sedimen lepas, terutama hasil endapan sungai, merupakan wilayah yang rentan mengalami goncangan akibat gempa bumi.

g.      Kawasan rawan tsunami di sepanjang pantai di Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunungkidul (khususnya pada pantai dengan elevasi (ketinggian) kurang dari 30m dari permukaan air laut).

Potensi bencana yang disebabkan oleh faktor non-alam yang mungkin tejadi di wilayah Provinsi DIY antara lain, gagal teknologi, epidemi, wabah penyakit, dampak industri dan pencemaran lingkungan. Sedangkan potensi bencana yang disebabkan oleh faktor manusia/sosial yang mengancam antara lain konflik antar kelompok masyarakat dan terorisme. Namun demikian terjadinya bencana yang disebabkan oleh faktor non-alam dan manusia/sosial, baik frekuensi maupun kerawanannya selama ini relatif kecil.

Daftar Pustaka

Gubernur  Daerah  Istimewa  Yogyakarta. 2012.  Peraturan  Peraturan  Gubernur  Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 26 Tahun 2012 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2013

Selasa, 17 Maret 2015

Nama Kelompok Analisis Lanskap

Nama Kelompok Tugas Analisis Landskap :

Siti Milkhatul Fithroh Fadin
Achmad Nurul Yakin
Indra Pradana Simanjutak
Nicson

Tugas Minggu III Analisis Lanskap



PENGARUH GEMPA TEKTONIK TERHADAP AKTIVITAS GUNUNG BERAPI

Vulkanisme adalah semua peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar mencapai permukaan bumi melalui retakan dalam kerak bumi atau melalui sebuah pita sentral yang disebut terusan kepundan atau diatrema.Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi disebut lava. Magma sebagai masa silikat cair pijar sangat giat melakukan gerakan ke segala arah baik secara vertical, miring, menyusup atau mendatar, yang bergerak dipermukaan bumi ataupun hanya di dalam bumi. Magma dapat bergerak naik karena memiliki suhu yang tinggi dan mengandung gas-gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong batuan di atasnya.
Di dalam litosfer magma menempati suatu kantong yang disebut dapur magma. Kedalaman dapur magma merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang terjadi. Pada umumnya, semakin dalam dapur magma dari permukaan bumi, maka semakin kuat letusan yang ditimbulkannya. Lamanya aktivitas gunung api yang bersumber dari magma ditentukan oleh besar atau kecilnya volume dapur magma. Dapur magma inilah yang merupakan sumber utama aktivitas vulkanik.
Pergerakan dari aktivitas vulkanik dapat berakibat terjadinya sustu gempa, yang dinamakan gempa vulkanik. Gempa vulkanik itu sendiri adalah getaran di permukaan bumi yang disebabkan oleh peristiwa keluarnya magma dari dapur magma. Peristiwa magma keluar dari dapur magma, baik hanya di lapisan kulit bumi maupun sampai permukaan bumi menyebabkan getaran disebut magma vulkanik. Getaran gempa vulkanik terbatas di tubuh gunung api dan di daerah sekitarnya. Bahaya dari gempa vulkanik adalah bahan­-bahan yang dikeluarkan oleh letusan gunung vulkanik, seperti batu­-batuan, debu, lahar, dan gas beracun. Akibat gempa vulkanik dapat membahayakan makhluk hidup dan lingkungan yang disebabkan oleh bahan letusan. Bila vulkanik berada di laut maka dapat menimbulkan gelombang pasang seperti Gunung Merapi. Pada umumnya, wilayah korban letusan vulkanik meliputi wilayah sempit (sekitar gunung api) dibandingkan dengan gempa tektonik. Lokasi atau daerah gempa vulkanik terdapat di seluruh gunung api di Indonesia.
Gejala atau tanda gunung api meletus adalah terjadi gempa, terdengar suara gemuruh dalam tanah, suhu di sekitar ka­wah naik, sumber mata air kering, binatang berpindah, tumbuhan sekitar kawah hangus, dan ekshalasi se­makin hebat. Manfaat gunung api adalah abu vulkanik da­pat meremajakan dan menyuburkan tanah di sekitar letusan, bahan ga­lian/tambang terdapat di daerah bekas letusan, dan hasil letusan digunakan sebagai bahan bangunan serta objek rekreasi.
Dari kejadian gempa yang terjadi di Jogja. Menurut BMG di dalam Hamid (2007), penyebab gempabumi tanggal 27 Mei 2006 diramalkan karena adanya gerakan pada pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng tektonik di samudra Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman 33 km. Kekuatan gempa adalah 5,9 Skala Richter (SR). Gelombang gempa akibat patahan lempeng tektonik merambat ke segala arah. Ketika gelombang tersebut mengenai sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali Progo, dan sesar Jiwo menyebabkan empat sesar ini patah lagi, karena batuan di empat sesar ini masih labil. Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar ini diperkirakan ada pada kedalaman kurang dari 30 km.
Aktivitas Kegunungapian,Gunung Aktif karena Gerak Lempeng Indoaustralia,Kebumen, Kompas – Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Meningkatnya aktivitas gunung api di Pulau Jawa, terutama Gunung Merapi, Dieng, dan Semeru berkorelasi dengan penajaman atau pergerakan lempeng Indoaustralia yang berada di bawah Pulau Jawa. Setiap tahun lempeng bagian dari lempeng Asia Tenggara itu bergerak sepanjang 10 sentimeter. Pada bagian lempeng yang menajam dengan dasar Pulau Jawa terjadi peleburan. Air yang dibawa partikel lempeng akan terpanaskan hingga menimbulkan uap yang membawa material magma ke atas permukaan bumi.
Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subadriyo, membenarkan gempa yang terasa di kota Yogyakarta gempa tektonik. Menurut Subandriyo, gempa yang terjadi Selasa (19/7) malam itutidak ada kaitannya dengan aktivitas gunung Merapi.Menurut Subadriyo, gempa tektonik yang bersumber di Samudera Indonesia itu bisa  saja mempengaruhi aktivitas Merapi. “Dalam kondisi Merapi yang aktif saat ini, gempa tektonik bisa saja memicu peningkatan aktivitas, namun bisa juga tidak. Makanya, kami akan cermati efek gempa itu terhadap aktivitas Merapi,”katanya.Gempa tektonik seperti itu, bisa berpengaruh terhadap gerakan magma gunung Merapi
Jadi, aktivitas dari pergerakan yang ditimbulkan oleh pergerakan lempeng bumi atau biasa  disebut dengan gempa tektonik dapat mempenggaruhi dari aktivitas gunung berapi. Akan tetapi pengaruhnya tergantung dari tingkat aktivitas gunung berapi. Jika keadaan gunung telah berada pada tingkat siaga, atau gunung pada kondisi akan meletus, maka pengaruh dari gempa tektonik dapat mempercepat terjadinya letusan gunung berapi.

Sumber
Hamid, Ahmad Abu. 2007.   Makalah Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Disampaikan Pada Pelatihan  Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya Di  PSBB MAN III Yogyakarta  Pada Tanggal 26 Februari 2007  tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya


Senin, 02 Maret 2015

Tugas Minggu II Analisis Landskap

Pengaruh Gaya Tektonik Gempa di Jogja
            Gempabumi yang banyak terjadi dan mempunyai efek sangat serius sebenarnya berasal dari kegiatan tektonik, yaitu mencakup 90% dari seluruh kejadian gempabumi. Gempabumi ini berhubungan dengan kegiatan gaya-gaya tektonik yang tengah terus berlangsung dalam proses pembentukan gunung-gunung, terjadinya patahan-patahan batuan (fault) dan tarikan atau tekanan dari pergerakan lempeng-lempeng lautan penyusun kerak bumi.
            Gempabumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik. Teori dari plat tektonik menjelaskan bahwa kulit bumi atau litosfer yang menutupi permukaan bumi keadaannya tidak utuh, melainkan terpecah-pecah berbentuk lempeng, yang satu sama yang lain bergerak saling menjauh, bertumbukan dan ada juga yang saling berpapasan. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Gerakan litosfer tersebut diakibatkan oleh adanya gerakan astenofer yang sifatnya cair kental. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Gempa bumi tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuto pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lepmeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian , kerangka teoritis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik.
            Begitu juga gempa yang terjadi di Jogja. Menurut BMG di dalam Hamid (2007), penyebab gempabumi tanggal 27 Mei 2006 diramalkan karena adanya gerakan pada pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia serta penunjaman lempeng tektonik di samudra Indonesia yang terletak 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman 33 km. Kekuatan gempa adalah 5,9 Skala Richter (SR). Gelombang gempa akibat patahan lempeng tektonik merambat ke segala arah. Ketika gelombang tersebut mengenai sesar (patahan) Kali Oya, Kali Opak, Kali Progo, dan sesar Jiwo menyebabkan empat sesar ini patah lagi, karena batuan di empat sesar ini masih labil. Batuan yang masih labil yang berada di empat sesar ini diperkirakan ada pada kedalaman kurang dari 30 km.



2. Penyebab Kedua
a. Sesar Kali Opak
            Sesar Kali Opak memanjang di kecamatan Kretek, Bambanglipuro, Jetis, Imogiri, Pleret, Piyungan, Berbah, Kalasan, dan Prambanan yang kemudian merambat ke sesar Jiwo. Kerusakan akibat gempa memang berada di 9 (sembilan) kecamatan ini. Di Kali Opak, minimal, ada empat tempuran (bertemunya dua buah sungai atau lebih), yaitu tempuran Kali Winongo dan Opak di Kec. Kretek, Kali Code dan Opak di Kec Jetis, Kali Gajah Uwong dan Opak di Kec. Pleret, serta tempuran Kali Gawe dan Opak di Kec. Piyungan. Oleh karena itu, wilayah aliran Kali Winongo, Code, Gajah Uwong, dan Kali Gawe terdapat kerusakan yang signifikan (berati), misalnya di Kec. Sewon, Bantul, Kretek, dan Kec. Jetis Kab. Bantul.
b. Sesar Jiwo
            Sesar Jiwo ada di daerah Klaten. Sesar Jiwo berada di kecamatan Wedi, Gantiwarno, Bayat, dan Cawas. Kerusakan yang berarti akibat gempa memang berada di 4 (empat) kecamatan ini.
c. Sesar Kali Oya
            Sesar Kali Oya dimulai dari tempuran Kali Opak dan Kali Oya (di wilayah Desa Seloharjo, Kec Pundong, desa Kiringan, Kec Kretek, serta Selopamioro dan Sriharjo, Kec Imogiri), terus ke arah tempuran Kali Celeng dan Kali Oya, Kedung Miri, Kedung Jati, Kedung Wanglu, dan Kedung Slempret yang ada air terjunnya setinggi kurang lebih 70 meter. Tempuran Kali Opak dan Kali Oya ada di perbatasan kecamatan Imogiri, Pundong, dan Kretek. Tempuran Kali Celeng dan Kali Oya, serta Kedung Miri ada di wilayah Kec. Imogiri. Kedung Wanglu, Kedung Jati, dan Kedung Slempret ada di wilayah Kec. Dlingo Kab Bantul, serta wilayah Kec Saptosari, Kec Panggang, Kec Playen, dan Kec Paliyan Kab Gunungkidul. Ada kemungkinan besar patahan di daerah ini diteruskan ke danau bawah tanah di wilayah Gunungkidul, misalnya: danau Bribin dan Bukit Baya Kec Gedangsari, serta danau bawah tanah di wilayah Seloharjo Kec. Pundong Kab. Bantul. Oleh karena adanya sesar Kali Oya kerusakan terjadi di wilayah Kec. Kretek, Imogiri, Pundong, dan Dlingo Kab. Bantul; serta wilayah Kec. Saptosari, Panggang, Playen, Paliyan, dan Gedangsari Kab. Gungkidul.
d. Sesar Kali Progo
            Sesar Kali Progo melalui dataran rendah yang agak luas, sehingga sesar progo tidak memicu gerakan gelombang gempa tanggal 27 Mei 2006. Kerusakan yang parah terjadi di wilayah perbukitan Kec. Sentolo dan perbukitan Kec Pajangan. Sesar progo melalui perbukitan kapur yang diduga masih labil batuannya di dua wilayah ini. Oleh sebab itu, kerusakan berat terjadi di wilayah Kec. Sentolo Kab. Kulonprogo serta Kec. Pandak dan Kec Pajangan Kab. Bantul. Perlu diketahui, bahwa pada arah ini ada tempuran Kali Bedog dan Kali Progo di dusun Mangir Desa Wijirejo Kec. Pandak, sehingga di wilayah ini juga terjadi kerusakan yang berarti.

Daftar Pustaka

Hamid, Ahmad Abu. 2007.   Makalah Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Disampaikan Pada Pelatihan  Siaga Gempa dan Bencana Alam Lainnya Di  PSBB MAN III Yogyakarta  Pada Tanggal 26 Februari 2007  tentang Gempabumi Tektonik Di Yogyakarta Dan Sekitarnya  Serta Bencana         Alam Lainnya. Yogyakarta : UNY